Ujian Reputasi Sang Sultan Priok

DomaiNesia

Jakarta, Genta Nasional – Ada pepatah lama “mulutmu harimaumu.” Tapi di zaman sekarang, mulut pejabat itu lebih mirip granat. Sekali meledak, serpihannya bisa mengenai siapa saja, termasuk dirinya sendiri.

Ahmad Sahroni mungkin tak pernah membayangkan bahwa lidahnya yang tak terkendali bisa menyeret rumah megahnya di Tanjung Priok jadi arena demonstrasi rakyat.

Bukan sekadar teriakan, tapi praktik langsung, yaitu perampasan aset versi rakyat, edisi beta test dari RUU yang terlalu lama dipermainkan di Senayan.

Ironi paling telak adalah, bahwa seberapa pun besar kebaikan yang pernah ia tebar, seberapa pun mewah cerita tentang derma Sahroni, tidak ada satupun itu yang mampu menahan gelombang massa yang merangsek masuk.

Rumah yang katanya penuh dengan simbol keberhasilan, koleksi mahal, dan cerita sukses dari “anak Priok” itu roboh wibawanya hanya dalam hitungan jam.

Apa gunanya cerita kedermawanan jika rakyat tak ragu menjadikan ruang tamunya pasar loak dadakan?

Pertanyaannya pedas, di mana para loyalis yang dulu dengan bangga mencoblos namanya, hingga 163 ribu suara mengantarkannya ke kursi empuk DPR?

Tak satupun yang terlihat menghalangi kerumunan.

Tak ada pagar tubuh.
Tak ada massa tandingan.
Tak ada benteng sosial yang biasanya jadi kekuatan seorang politisi.
Yang tersisa hanya pintu jebol, perabot tercerai-berai, Lexus penyok, dan boneka koleksi yang digondol tanpa permisi.

Bahaya lidah pejabat hari ini bukan lagi sekadar soal etika. Ia bisa jadi pemicu kemarahan yang lebih cepat menyebar ketimbang breaking news televisi.

Lidah bisa membakar emosi publik, sementara jempol-jempol di TikTok dan Instagram menyulut bensin di atas apinya.

Narasi di layar ponsel lebih dipercaya daripada klarifikasi di ruang sidang.
Dan begitu massa merasa punya legitimasi moral, apa pun bisa jadi sasaran: kursi, meja, piano, bahkan patung Iron Man yang seharusnya hanya mainan.

Sahroni jadi contoh hidup bagaimana simulasi bisa berubah jadi kenyataan.

RUU Perampasan Aset yang berbulan-bulan digodok tak selesai-selesai, justru dipraktikkan rakyat dengan sederhana.

Tak perlu naskah akademik, tak perlu rapat Baleg.

Cukup rasa muak, cukup lidah yang menyakiti, cukup simbol kemewahan yang mencolok, dan hukum jalanan pun berjalan. Inilah hyperreality di era digital, dimana simulasi perampasan melahirkan perampasan sungguhan.

Satu pelajaran pahit yang mungkin tak akan dilupakan pejabat lain, bahwa sebesar apa pun rumahmu, sehebat apa pun kisah suksesmu, dan semahal apa pun mobil di garasimu, semua bisa runtuh ketika mulutmu menjadi sumber api.

Sebab di mata rakyat yang marah, tidak ada pintu yang cukup kuat untuk menahan amarah yang sudah dipupuk oleh kata-kata yang sembrono.

Lukman Hakim
Human Tech Incho

Penulis: RedaksiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *