Jakarta, gentanasional.com – Ditreskrimum Polda Metro Jaya sudah menangani kasus meninggalnya Dul Kosim (DK), 7 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan serta seorang lainnya DPO, hingga kini DPO yang berinisial S, masih belum tertangkap.
Menanggapi hal tersebut salah satu Anggota Tim Khusus LAI, M. Jodhi menilai pihak Polda Metro Jaya belum cukup transparan dalam pengungkapan kasus tersebut, ketika di temui awak media gentanasional.com di ruang kerjanya di Rumah Rakyat Aliansi Indonesia yang terletak di Pintu II TMII, Jakarta Timur.
Menurut Jodhi, patut diduga DK adalah korban salah tangkap, saat di-interogasi Dul Kosim dianggap tidak koperatif, kemungkinan Dul Kosim tidak mengerti apa yang dipertanyakan atau yang di tuduhkan oleh para petugas tersebut, Karena tidak ada pengakuan kemudian DK disiksa dan dianiaya sampai tewas.
“Logikanya seperti ini, sekuat apa sih orang disiksa tetap tidak mau mengaku? Kan dia (DK) kalau memang bukan pelaku, disiksa sampai matipun apa yang mau diakui? Logikanya kan begitu,” imbuhnya.
Tim Khusus Lembaga Aliansi Indonesia (Timsus LAI) terus bekerja secara intensif sesuai dengan kewenangannya yang melekat dan Tim Khusus LAI mendesak Polda Metro Jaya (PMJ) agar lebih transparan dalam mengungkap kasus tewasnya DK yang diduga akibat siksaan dari oknum-oknum di Ditresnarkoba PMJ.
Saat ini Tim Khusus LAI masih terbagi tugas di dua wilayah untuk menjaring dan mengumpulkan informasi sekecil apapun terkait tewasnya Dul Kosim, untuk bahan dan data tambahan guna membantu pihak terkait yang menangani kasus tersebut.
Sementara itu anggota Timsus yang bertugas di wilayah Bandung Barat, Asep Rohendi, saat di konfirmasi oleh awak media gentanasional.com melalui ponselnya menginginkan dan mendesak agar PMJ mengungkap pembuangan jenazah Dul Kosim ke dasar jurang Jalan Raya Purwakarta, Kampung Cirangrang, Desa Sumur Bandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang merupakan wilayah hukum Polsek Cipatat, Polres Cimahi, yang ditemukan pada hari Senin 24 Juli 2023.
“Pembuangan jenazah almarhum di tempat yang jauh dari TKP, dengan plat nomor sepeda motor almarhum yang diganti, roda depan sepeda motor yang dilepas, dengan dikesankan seolah kecelakaan tunggal, ditambah kondisi jenazah yang sudah sulit dikenali, sangat kuat indikasinya adalah untuk menghilangkan jejak,” tegas Asep.
Menurut Asep, salah satunya motif kenapa para pelaku harus menghilangkan jejak sedemikian rupa. “Ini salah satunya yang kami tuntut dari Polda Metro Jaya untuk transparan,” tutupnya.
(gn/red).













