JAKARTA — Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Universitas Ibnu Chaldun (UIC) menyelenggarakan diskusi ideologis bertajuk “Manifestasi Marhaenisme Terhadap Peradaban Modern” pada Sabtu, 19 April 2026 di Kampus Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta Timur.
Kegiatan ini dipandu oleh Martogi Situmorang selaku kader GMNI UIC, serta menghadirkan narasumber Denny Agiel Prasetyo dan Otama Halawa, S.E. Diskusi turut dihadiri Ketua Cabang GMNI Jakarta Timur Efrem Nduru, S.H., serta tamu undangan Prof. Dr. dr. Daldiyono, Sp.PD-KGEH, FINASIM dan Dr. Sunarno.
Forum ini menjadi bagian dari upaya kolektif kader GMNI untuk terus menghidupkan dialektika pemikiran Bung Karno di tengah dinamika peradaban modern yang semakin kompleks.
Dalam pemaparannya, Otama Halawa yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Agitasi dan Propaganda DPC GMNI Jakarta Timur menegaskan bahwa Marhaenisme bukan sekadar arsip sejarah yang bersifat statis, melainkan pola perlawanan yang terus hidup dalam menjawab berbagai bentuk penindasan.
Ia menekankan bahwa memahami Indonesia secara ideologis tidak dapat dilepaskan dari pemahaman terhadap Marhaenisme itu sendiri. Menurutnya, Marhaenisme merupakan sari pati dari Pancasila. Jika diperas, Marhaenisme akan menjadi Pancasila, dan jika Pancasila diperas kembali, akan melahirkan Eka Sila, yakni gotong royong sebagai inti terdalam kehidupan berbangsa.
“Dengan demikian, Marhaenisme merupakan ruh yang mendasari setiap kebijakan dan sikap hidup rakyat Indonesia dalam bernegara,” ujar Otama.
Lebih lanjut, Otama menjelaskan posisi Marhaenisme di tengah ideologi dunia. Ia menyebut bahwa meskipun Marhaenisme menggunakan pendekatan Materialisme Dialektika Historis (MDH) yang memiliki kemiripan dengan Marxisme—terutama dalam keberpihakan terhadap kaum tertindas—namun Marhaenisme bukanlah hasil adopsi mentah.
“Marhaenisme adalah hasil olah pikir Bung Karno yang telah difilter sesuai dengan kondisi objektif, sejarah, dan kultur bangsa Indonesia,” jelasnya.
Menurutnya, perlawanan Marhaenisme di Indonesia ditujukan untuk melawan kolonialisme serta segala bentuk penghisapan, baik bangsa atas bangsa maupun manusia atas manusia, dengan tetap berpijak pada kepribadian nasional.
Memasuki pembahasan konteks kekinian, Otama menyoroti bahwa musuh rakyat saat ini telah mengalami transformasi menjadi neo-kolonialisme atau penjajahan gaya baru. Ia menegaskan bahwa bentuk penindasan di era modern tidak lagi selalu tampak secara fisik, melainkan hadir secara sistemik dan bahkan masuk ke dalam kesadaran manusia melalui perkembangan teknologi.
“Penindasan di era digital sering kali masuk secara halus ke dalam alam bawah sadar tanpa disadari. Karena itu, diperlukan pengamatan yang utuh dan terstruktur dari kader untuk mendeteksi bentuk-bentuk baru eksploitasi,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa manifestasi Marhaenisme di era modern harus dilandasi oleh keikhlasan berjuang yang berangkat dari kesadaran akan nasib yang sama, guna mewujudkan kesejahteraan rakyat atau welfare state.
Otama turut mengajak kader GMNI sebagai “pejuang pemikir dan pemikir pejuang” untuk tetap menjadikan nilai-nilai Marhaenisme dan Pancasila sebagai dasar dalam setiap langkah perjuangan dan pengambilan kebijakan bangsa. Ia mengingatkan bahwa jika nilai-nilai tersebut ditinggalkan, maka eksistensi bangsa berpotensi tergerus oleh arus zaman.
Sebagai penutup, Otama menegaskan bahwa selama esensi kebangsaan, kemanusiaan, demokrasi politik, dan demokrasi ekonomi—yakni kehadiran negara dalam melindungi ekonomi rakyat—masih terjaga, maka Marhaenisme akan tetap relevan.
“Namun, jika variabel-variabel tersebut secara sistematis dihilangkan, maka Marhaenisme akan selalu hadir sebagai senjata perlawanan terhadap rezim mana pun,” tegasnya.
Sementara itu, Denny Agiel Prasetyo dalam pemaparannya menekankan pentingnya mengaktualisasikan Marhaenisme secara konkret dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyampaikan bahwa Marhaenisme tidak boleh berhenti pada tataran wacana atau diskursus semata.
“Marhaenisme tidak boleh hanya hidup di ruang diskusi. Ia harus hadir dalam tindakan nyata, dalam keberpihakan yang jelas kepada rakyat kecil, serta dalam upaya memperjuangkan keadilan sosial,” ujar Denny.
Ia juga mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, kader GMNI tidak boleh kehilangan orientasi ideologis maupun keterhubungan dengan realitas rakyat.
“Kita tidak boleh tercerabut dari basis sosial rakyat. Justru di tengah perubahan zaman, kita harus semakin hadir, membaca realitas, dan terlibat langsung dalam perjuangan,” tambahnya.
Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap penguatan ideologi Marhaenisme di tengah tantangan zaman.
Melalui kegiatan ini, GMNI Komisariat Universitas Ibnu Chaldun menegaskan komitmennya untuk terus merawat, mengembangkan, dan mengaktualisasikan nilai-nilai Marhaenisme sebagai landasan perjuangan dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur.













