Tasikmalaya, gentanasional.com | Di balik pagar kandang yang sunyi, harapan kini tumbuh subur. Harapan yang selama ini dipinggirkan, pelan tapi pasti mulai mendapatkan tempat. Tahun 2025 menjadi babak baru bagi para peternak di Kabupaten Tasikmalaya, yang dulu sering dianggap kelas dua, kini mulai diakui, dihargai, dan disambut dengan tangan terbuka.
Semangat itu terangkum dalam gelaran Pestok 2025 (Pesta Patok), sebuah perayaan hasil bumi dan peternakan lokal yang mengusung tema penuh makna: “Peternak Dihargaan, Ternakna Aya Hargaan”. Sebuah kalimat sederhana yang menegaskan bahwa profesi peternak layak mendapat tempat terhormat, dan ternak yang dirawat sepenuh hati pantas diberi nilai yang layak.
Namun, Pestok bukan sekadar ajang seremonial. Ia hadir sebagai ruang nyata untuk edukasi, apresiasi, dan kolaborasi. Diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, DKP3, Polres Tasikmalaya, dan DPC HPDKI (Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia), Pestok 2025 menjadi simbol kebangkitan sektor peternakan rakyat.
Di tengah aroma jerami dan riuh suara ternak, terukir kisah perjuangan panjang para peternak yang selama ini tersembunyi. Kini, lewat Pestok, cerita itu naik ke permukaan. Suara mereka didengar, kerja keras mereka dihargai.
Diselenggarakan di Lapangan Gebu Singaparna, tepat di jantung pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya, Pestok 2025 menyuarakan pesan kuat: peternak bukan sekadar penghasil daging, mereka adalah penggerak ekonomi desa dan penjaga ketahanan pangan nasional.
Kerja sama lintas lembaga yang terjalin, antara Pemkab, DKP3, Polres, dan HPDKI, menjadi bukti bahwa kebanggaan menjadi peternak kini sedang dibangun kembali.
Tahun ini, Pestok terasa istimewa. Selain menghadirkan potensi unggulan sektor peternakan, ajang ini juga dikolaborasikan dengan Gerakan Pangan Murah, sebuah inisiatif dari Bidang Ketahanan Pangan DKP3.
“Pesta Patok memang rutin digelar setiap tahun. Kali ini kami kolaborasikan dengan Gerakan Pangan Murah karena langsung menyentuh isu ketahanan pangan,” ujar H. Eka Rahardian, Kepala Bidang Pangan DKP3, Kamis (26/06/25).
Meski keterbatasan anggaran menjadi tantangan, dukungan dari pemerintah pusat melalui Bapanas memungkinkan kegiatan ini tetap berjalan.
“Alhamdulillah, bantuan dari Bapanas sangat membantu agar masyarakat bisa mendapatkan pangan dengan harga terjangkau,” tambahnya.
Gerakan ini tidak hanya menyediakan beras, tapi juga komoditas strategis lain seperti telur, daging ayam, cabai merah, dan bawang merah. Kelompok tani, UMKM, dan lumbung pangan masyarakat pun dilibatkan agar manfaatnya terasa langsung oleh warga.
Eka berharap gerakan semacam ini bisa digelar minimal lima kali setahun, terutama menjelang hari besar nasional. Ia juga menekankan pentingnya sinergi dengan pemerintah desa agar dana ketahanan pangan desa bisa dioptimalkan.
“Potensi di desa besar, tinggal bagaimana sinerginya. Harapan kami ke depan ada alokasi rutin dari APBD supaya gerakan ini berkelanjutan,” ujarnya.
Pestok 2025 juga menjadi panggung kehormatan bagi 700 peternak dari 39 kecamatan yang mengikuti kontes ternak tahunan. Mereka membawa domba dan kambing terbaiknya untuk dinilai dalam berbagai kategori, seperti Raja Kasep Moel, Ratu Bibit, hingga Raja Pedaging Ekstrem.
“Ini ajang silaturahmi dan promosi ekonomi. Para peternak bisa tukar pengalaman dan memperlihatkan hasil terbaik mereka,” ungkap Asep Yuda, Ketua DPC HPDKI Tasikmalaya.
Proses penilaian dilakukan oleh tim juri ahli: akademisi dari Fakultas Peternakan Unpad, juri bersertifikat dari DPD HPDKI Jawa Barat, dan dokter hewan dari Dinas Pertanian. Aspek yang dinilai pun tak main-main, diantaranya kebersihan, kesehatan, keindahan bulu, bentuk tubuh, tanduk, hingga adeg-adeg atau perilaku ternak.
(Totong)













